Tuhan merajut cerita mereka berawal dari kisah pertemanan masa sekolah. Eras dan Ivon tidak pernah mencurigai bahwa pertemanan mereka hanyalah permulaan dari cerita yang akan sangat panjang, kekal, dan sakral. Dengan sengaja Tuhan merahasiakan maksud dari segala senyum manis Ivon kepada Eras dan merahasiakan maksud tatapan Eras kepada Ivon. Semuanya terbungkus oleh pertemanan yang biasa dan tanpa tujuan apapun.
Hingga pada suatu saat, Jogja yang istimewa menyingkap semua maksud Tuhan itu. Bahwa mereka bertemu kembali dan dalam tatapan, senyum, dan tawa yang sama. Namun kali ini bukan hanya mata yang saling pandang atau bibir yang saling senyum, tetapi hati mulai berani merambati setiap titik pandang dan simpul senyum mereka.
Eras, dengan restu keistimewaan Jogja cukup berani bersaksi bahwa Ivon lebih istimewa dari Jogja atau bahkan segala tutur, kebaikan, dan ketulusan dari seorang Ivon adalah doa paling dalam dan sunyi bagi Eras. Maka Eras dan Ivon pada suatu waktu bersedia menjadikan Jogja menjadi titik temu antara dua hati yang tulus ikhlas.
Pada mulanya mereka saling melempar senyum. Pada akhirnya senyum-senyum itu pula yang merayu Tuhan untuk mempersatukan mereka di depan altar.
Eras & Ivon